[Resensi] Perahu Kertas : Radar Neptunus Tidak Bekerja Di Sini
Mengadaptasi
sebuah novel menjadi sebuah film adalah suatu usaha yang riskan. Di
satu sisi bila kita bicara dari perspektif pemasaran, film yang diangkat
dari novel berpotensi untuk menggaet penonton. Terlebih bila novel yang
diadaptasi memiliki penggemar dalam jumlah masif. Artinya terdapat
peluang untuk filmnya ditonton oleh para penggemarnya.
Namun dari
persepektif filmnya sendiri, upaya mengadaptasi sebuah novel "besar"
juga berpeluang untuk untuk menuai kecaman. Alasannya, penonton
potensial yang notabene pembaca novelnya akan membandingkan apa yang ada
di novel dengan di filmnya. Para pembaca novel memiliki imajinasi
tersendiri terhadap halaman demi halaman novel yang divisualisasikan.
Repotnya, setiap pembaca punya imajinasi masing-masing di benaknya.
Bisa dikatakan usaha adaptasi sebuah novel ke bentuk film adalah
loose-loose situation. Peluang untuk untung sama besar dengan peluang untuk dicaci-maki.
Jika ditilik secara statistik, kebanyakan film adaptasi sebuah novel laris juga sukses di pasaran. Contohnya adalah
Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Ayat-Ayat CInta atau yang rilis tahun ini
Negeri 5 Menara.
Tidak
heran bila para produser melihat film adaptasi novel menjadi terlalu
"seksi" untuk diabaikan. Dan hal ini kemudian terjadi pada
Perahu Kertas.
Cerita
Perahu Kertas sebenarnya
sederhana. Menuturkan kepelikan kisah cinta antara seorang gadis dan
seorang pemuda, yang kemudian terlibat intrik asmara dengan karakter
lain. Sama seperti kisah cinta di novel remaja umumnya.
Penulis sendiri tidak terlalu tertarik membaca literatur kisah asmara remaja, namun berbeda dengan
Perahu Kertas karya
Dewi "Dee" Lestari ini.
Yang membuat
Perahu Kertas unik adalah dua karakter utamanya,
Kugy dan
Keenan. Mereka bukan "remaja" biasa. Mereka berdua adalah karakter yang unik.
Kugy
percaya bahwa ia adalah utusan Dewa Neptunus dan memiliki kekuatan
telepati "radar Neptunus". Dari cita-citanya saja ia sudah unik,
Kugy ingin menjadi "penulis dongeng". Untuk menambah keunikan,
Kugy gemar berdandan unik (kalau tidak mau dibilang
nyeleneh), memakai jam tangan
Kura-Kura Ninja, serta menggemari musik
pop alternative 80 dan awal 90'an. Suatu pilihan yang tidak lazim di lingkungannya.
Keenan pun tidak kalah uniknya. Pemuda ini dibesarkan di lingkungan mapan, namun cenderung berjiwa
indie. Ayahnya ingin melihatnya sebagai seorang ahli ekonomi dan pengusaha,
Keenan lebih memilih menjadi seniman lukis. Persamaan terbesar
Kugy dan
Keenan yang lantas membuat mereka terkait secara emosi adalah cara mereka memandang dunia. Mereka sama-sama cenderung anti sosial.
Karakter
Kugy-Keenan di novelnya sangatlah kuat, sehingga karakter lainnya menjadi pelengkap saja. Karakter seperti
Remi, Wanda, Luhde, Eko, Noni ataupun
Pak Wayan (mentor melukis
Keenan) memang hadir dan mewarnai kehidupan mereka. Karakter lain hanyalah ornamen.
Novel
Perahu Kertas juga
menjadi menarik karena juga menuturkan tentang eksistensi diri. Tentang
bagaimana sebuah takdir harus dikejar atau ditunggu, tentang pameo
klasik "jodoh sudah dituliskan oleh Tuhan" dan tentang pertanyaan
mungkinkah idealisme bertemu dengan realitas.
Kisah yang
sebenarnya klise dituturkan secara dewasa lengkap dengan dialog-dialog
personal yang menggugah emosi pembacanya. Tidak heran bila pembaca
Perahu Kertas kebanyakan
berasal dari orang-orang berusia 20 tahun ke atas. Rentang usia yang
sudah lebih dewasa dalam memaknai sebuah peristiwa.
Lantas
tantangan terbesar dari usaha mengadaptasi sebuah novel yang besar oleh
karakter adalah bagaimana menemukan aktor/aktris yang bisa memenangkan
imajinasi terliar para pembacanya. Tantangan kedua adalah bagaimana
memindahkan novel yang sudah memiliki penuturan filmis seperti
Perahu Kertas menjadi film yang bisa dinikmati oleh semua pihak.
Bukan perkara mudah bagi pihak yang membesut filmnya memang.
Hanung Bramantyo adalah seorang sutradara kawakan Indonesia yang memiliki rekam jejak bagus.
Hanung
terkenal mampu membuat sebuah film yang bisa berkompromi secara
kualitas dan komersil. Ia pun berpengalaman mengadaptasi sebuah novel
menjadi film, sesuatu yang pernah dilakukannya di
Jomblo, Ayat-ayat Cinta ataupun
Perempuan Berkalung Sorban. Film-film itu terbilang memuaskan.
Hanung
juga dikenal piawai mengangkat aktor-aktris yang bekerjasama dengannya
ke suatu tingkatan akting lebih tinggi. Suatu nilai tambah dalam
mengadaptasi
Perahu Kertas, sebuah novel yang seperti dikatakan di atas besar karena karakternya.
Adaptasi
Perahu Kertas semakin menjanjikan saat
Dewi "Dee" Lestari, turun tangan langsung untuk menuliskan naskahnya.
Meski ditopang oleh dua orang berbakat, harus dikatakan
Perahu Kertas tampil mengecewakan sebagai sebuah adaptasi novel.
Alih-alih melakukan adaptasi novel secara bebas,
Perahu Kertas disajikan
tumplek-blek
sama persis dengan novelnya, terutama secara kronologis dan seting
waktu. Sesuatu yang terasa panjang hingga akhirnya perlu dibagi menjadi
dua film.
Kugy diperankan oleh
Maudy Ayunda (
Tendangan Dari Langit, Untuk Rena, Malaikat Tanpa Sayap). Sementara
Keenan diperankan oleh
Adipati Dolken (
Malaikat Tanpa Sayap).
Kugy sama seperti novelnya adalah seorang gadis muda
nyeleneh dan berjiwa seni. Ia berpacaran dengan
Ojos (
Dion Wiyoko) sedari SMU.
Selepas SMU,
Kugy diterima di sebuah universitas di
Bandung, di mana ia kembali bertemu dengan teman akarabnya,
Noni (
Sylvia Fully R), dan kekasih
Noni yang bernama
Eko (
Fauzan Smith).
Mereka bertiga bersahabat dan dunia
Kugy terasa aman-aman saja, hingga hadirnya sepupu
Eko yang bernama
Keenan.
Keenan layaknya seorang "alien" yang mampu mengusik kelembamam
Kugy di zona nyamanya.
Kugy merasa "radar Neptunus"-nya bekerja maksimal saat bersama
Keenan, pun sebaliknya.
Kugy dan
Keenan merasa mereka saling melengkapi secara emosi dan mereka punya begitu banyak kesamaan.
Keenan yang pelukis merasa
klop dengan
Kugy yang
pendongeng. Namun. alih-alih berbicara terus terang akan ketertarikan
masing-masing, mereka merasa terkungkung oleh batasan persahabatan di
antara mereka.
Sampai suatu ketika datanglah karakter
Wanda (
Kimberly Ryder) di tengah kehidupan
Kugy, Keenan, Noni dan
Eko.
Wanda yang merupakan pengelola sebuah galeri lukisan, dianggap sebagai wanita yang cocok dengan
Keenan oleh
Noni dan
Eko.
Makin masuknya
Wanda ke kehidupan mereka, membuat
Kugy memilih untuk menyingkir. Menyingkirnya
Kugy menjadi awal dari konflik di antara para karakter di film ini. Hubungan antara
Keenan-Wanda, ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan. Hubungan antara
Kugy-Noni-Eko pun demikian.
Perjalanan waktu membuat
Keenan pun memilih jalan yang sama dengan
Kugy, memencilkan diri dari lingkar persahabatan mereka.
Kugy memilih jalan sendiri,
Keenan memilih jalan sendiri.
Kugy lantas berhasil menamatkan kuliah dan bekerja di perusahaan iklan bernama
Avocado. Di sini ia bertemu
Remi (
Reza Rahadian), pimpinan yang kemudian mencoba memikat hati
Kugy.
Keenan pun memilih bermukim di
Bali, sembari menelusuri mimpinya menjadi pelukis di galeri milik
Pak Wayan (
Tio Pakusadewo). Di Bali,
Keenan pun bertemu dengan
Luhde (
Elyzia Mulachela), seorang gadis
Bali yang coba memahami
Keenan.
Akan tetapi meski terpisah jarak dan waktu, radar
Keenan-Kugy tak melemah.
Keenan tak pernah menyangka lukisannya yang dibeli
Remi, masih akan menghubungkan emosinya dengan
Kugy.
Pun meski
Kugy menerima cinta
Remi dan
Keenan mencoba menjajaki hati
Luhde, takdir mempertemukan mereka di pesta pernikahan
Noni-Eko.
Dan di sinilah akhir bagian pertama film ini.
Still photo Perahu Kertas (courtesy Starvision, Bentang Pictures & Dapur Film)
SETIA DENGAN NOVELNYA, NAMUN GAGAL DI PEMERAN UTAMANYA
Hanung Bramantyo mencoba bermain "aman" dalam menyajikan
Perahu Kertas ke rupa gambar gerak.
Hanung, berdasarkan skenario yang langsung ditulis
Dee, menampilkan rangkaian kronologi perisiwa di filmnya secara runut, linear dan relatif setia dengan novelnya.
Kesetiaan
Dee terhadap novelnya, di beberapa adegan harus "tunduk" kepada sang sutradara.
Hanung memasukan beberapa humor dan ciri khasnya di dalam film ini.
Penampilan
cameo Hanung
sebagai kurator lukisan bergaya kemayu, misalnya. Atau sempilan
kemunculan para pengamen jalanan, menyanyikan sepenggal lirik lagu yang
mengiringi momen di beberapa perpindahan
scene.
Hanung juga
mengintepretasikan beberapa karakter hingga memberikan ruang humor di
dalamnya. Sebuah tindakan utnuk membuat film ini menjadi lebih segar,
karena karakter
Kugy-Keenan dalam film ini memang dipasang "serius" dan kontemplatif.
Misalnya pada karakter
Eko yang diperankan oleh
Fauzan Smith. Berdasarkan intepretasi
Hanung, karakter
Eko adalah seorang pemuda keturunan
Arab-
Betawi dengan perwatakan
ngebanyol. Dalam novelnya,
Eko beserta pacarnya
Noni, memang ditampilkan seoleh sebagai "punawakan" dalam ceritanya. Berfungsi untuk menjaga keseimbangan emosi dari konflik antara
Kugy-Keenan.
Ditampilkannya
Eko dalam sosok pemuda keturunan
Arab-Betawi, memang tidak salah. Mengingat tidak ada penggambaran fisik secara detail untuk karakter
Eko-Noni. Keputusan
Hanung juga kemudian berujung kepada visualisasi adegan pernikahan bergaya
Betawi-Arab. Di sisi ini
Hanung berhasil memberikan sentuhannya.
Ironisnya, perhatian penonton (dan pembaca) kemudian teralihkan kepada
Eko-Noni. Dan melupakan dua karakter utama
Kugy-Keenan.
Permasalahan terbesar dari adaptasi
Perahu Kertas ini memang kepada pemilihan
Maudy Ayunda dan
Adipati Dolken sebagai
Kugy-Keenan.
Maudy terlihat tidak mampu menghadirkan
Kugy, pun
Adipati terlihat terlalu canggung berperan sebagai
Keenan.
Maudy Ayunda tidak bisa menghadirkan jiwa "pemberontak" dan
indie seorang
Kugy dalam sosok manisnya.
Maudy terlalu manis untuk memerankan karakter sekompleks
Kugy. Dalam novelnya sendiri,
Kugy adalah gadis aneh, sulit dimengerti, cenderung introvert, namun akan berbinar-binar bila diajak bicara mengenai dongeng.
Kugy memiliki dualitas, berpikiran dewasa terkadang konyol. Dia terkadang aneh dan menyebalkan, namun mudah dicintai.
Maudy Ayunda tidak memiliki kualitas itu. Penampilan
Maudy di film ini terlihat sama dengan penampilan di film-filmnya sebelum
Perahu Kertas.
Maudy justru menampilkan
Kugy
sebagai gadis yang terlihat manja kekanak-kanakan, ditambah logatnya
yang terkadang Inggris. Dialog yang terlontar pun tidak terlihat keluar
dari sukma. Alih-alih tampil
nyeni dengan "keanehannya",
Maudy justru terlihat konyol sebagai
Kugy dengan jam tangan
Kura-Kura Ninja.
still photo Perahu Kertas (courtesy of Starvision, Bentang Pictures & Dapur Film)
Pun dengan
Adipati Dolken sebagai
Keenan. Alih-alih sebagai pemuda percaya diri dengan keputusannya,
Adipati memperlihatkan
Keenan sebagai pemuda ragu-ragu. Layaknya
Kugy, Keenan
memiliki kompleksitas dan dualitas di dirinya. Ia percaya diri,
sekaligus rapuh. Ia menarik perhatian banyak orang, namun justru menarik
dirinya dalam-dalam ke cangkang perlindungan dirinya.
Hal ini diperparah dengan tidak adanya koneksi emosi antara
Maudy Ayunda sebagai
Kugy dan
Adipati Dolken sebagai
Keenan. Pertemuan pertama kali mereka di stasiun kereta, justru menimbulkan tanda Tanya, apakah mungkin dalam sekejap
Kugy jatuh cinta begitu dalam dengan seorang sosok pria tidak istimewa seperti
Keenan versi
Adipati?
Hanung pun memutuskan meniadakan adegan di novelnya, saat
Kugy-Keenan-Noni-Eko terlibat suatu permainan seperti
truth or dare. Padahal momentum inilah yang membuat
Kugy dan
Keenan saling menyelami pribadi masing-masing untuk pertama kalinya.
Di film,
Kugy-Keenan
ditampilkan langsung terlibat percakapan soal mimpi, eksistensi dan
pilihan hidup. Sebuah topik yang dirasa akan mustahil dibicarakan oleh
dua orang yang baru mengenal. Tidak ada momen pembuka untuk mencapai
fase itu, dalam hal ini adegan bermain
truth or dare. Hasilnya, pertautan emosi
Kugy-Keenan tidak tercipta yang berimbas kepada penonton yang juga tidak merasakannya.
Hal
yang sangat beresiko untuk menghadirkan sebuah novel sama persis dengan
runutan kejadian di filmnya. Pilihan untuk meniadakan beberapa
momentum, bisa terjebak kepada penghilangan adegan yang bisa
menjembatani sebuah momentum penting selanjutnya.
Terlebih bahasa film yang mengharuskan penggunan seluruh indera, berbeda dengan bahasa novel yang hanya bahasa verbal.
Hanung terasa tidak percaya diri untuk menyentuh karakter
Kugy-Keenan.
Maudy Ayunda dan
Adipati Dolken seolah dilepas menerjemahkan sendiri seperti apa
Kugy dan seperti apa
Keenan.
Hanung terasa justru lebih berani bereksperimen dengan para karakter pendukung seperti
Luhde, Eko, Noni ataupun
Remi.
Hasilnya
Maudy tetap tampil sebagai
Maudy yang selama ini kita lihat,
Adipati Dolken pun begitu.
Kesetiaan
Hanung kepada novelnya, juga berimbas pada
tone filmnya. Film ini terasa amat lamban dan panjang, serta datar.
Penulis merasa beberapa kali mengantuk, hingga akhirnya karakter
Eko dan
Noni muncul di layar.
Kesetiaan
Hanung pada runutan kejadian
Perahu Kertas juga berimbas kepada departemen kamera yang ditangani oleh
Faozan Rizal.
Faozan Rizal yang biasanya berani bermain dengan
angle-angle tajam
dan gerak dinamis, tampak hanya merekam setiap kejadian di film ini.
Terasa sangat datar dan hambar. Gambar dan warna indah tetap dihadirkan
Faozan Rizal, tetapi hanya sekadar indah tanpa emosi.
Hadirnya
lagu dalam film ini juga tidak banyak membantu. Bukan menambah
estetika, harus diakui hadirnya lagu di beberapa adegan terasa
berlebihan dan membuat film menjadi cerewet.
Misalnya sebuah adegan
Maudy Ayunda sebagai
Kugy
diperlihatkan sedang bimbang dan sedih akan pilihan sulit di depannya.
Apakah tidak cukup dengan bahasa akting untuk memperlihatkannya,
sehingga harus menambahkan sebuah lagu bernada melankolis?
Still photo Perahu Kertas (Courtesy of Starvision, Bentang Pictures & Dapur Film)
PERAHU YANG KEHILANGAN NAHKODA DAN PENUNJUK ARAH
Judul
Perahu Kertas itu tidak tanpa arti.
Perahu Kertas dalam novelnya menjadi penanda kejadian. Di saat
Kugy
gundah menghadapi sebuah peristiwa besar, ia memilih untuk mencoretkan
kegundahannya ke atas kertas untuk kemudian dibentuk menjadi sebuah
perahu yang dilarungkan di aliran air.
Di film hal ini tidak menjadi hal krusial, seolah menjadi tempelan di pembuka saja.
Hanung tidak mengeksplorasi ini menjadi lebih dalam dan ini sangat disayangkan.
Versi
filmnya sendiri terasa tidak mengalir seperti novelnya. Filmnya lebih
terasa mengambil cuplikan-cuplikan adegan di novelnya, untuk kemudian
ditampilkan dalam sebuah kolase. Tidak ada emosi yang merekatkan semua
itu.
Ibarat sebuah perahu, film ini sudah kehilangan dua awak
penting. Satu nahkoda dan penunjuk arah, dalam hal ini keduanya
diwakilkan oleh
Keenan sebagai nahkoda dan
Kugy sebagai
pemandu arah. Pembaca dan penggemar novelnya tidak percaya dengan kedua
pemerannya. Apa jadinya bila penumpang sebuah perahu tidak percaya
dengan dua kru penting perahu itu?
Bahkan "radar Neptunus" pun tidak mampu menyelamatkan film ini.
Pembaca
dan penggemar novelnya akan tidak peduli lagi dengan segala keindahan
dan aspek teknis di filmnya. Juga tidak peduli apakah film ini akan
dilanjutkan di bagian keduanya nanti.
Pembagian fim ini menjadi dua juga dirasakan sebagai hal yang janggal.
Perahu Kertas
adalah drama percintaan yang dirasakan terlalu datar. Adegan akhir di
film pertamanya, sudah pas sebagai penutup. Bagi penonton awam pun, film
ini sudah berakhir.
Bagi pembaca novelnya, untuk apa menanti sebuah kelanjutan film di mana mereka sudah tidak percaya dengan para pemerannya?
Tapi
bila dipandang dari perspektif remaja yang gemar menonton film bertema
"percintaan" ringan, maka mungkin akan cukup terhibur dengan film ini.
Perahu Kertas kemungkinan besar akan berhasil memukau penonton remaja, karena memang film ini menjadi sangat ringan. Seringan kertas.
.Dan ini adalah foto-foto nya :